Langsung ke konten utama

Waktu-Pun Tak Mampu Mendewasakan Kita

Photo: www.pexel.com

Dewasa itu tidak bisa ditentukan dengan usia. Memang sebenarnya usia juga merupakan faktor penentu kedewasaan, memang tidak salah, tapi faktanya masih banyak orang yang berumur tapi belum dewasa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dewasa berarti mengarah kepada keadaan seseorang yang sudah mengalami akil baligh (bukan kanak-kanak atau remaja) dan telah mengalami perubahan dalam cara pandang, pemikiran, dan sebagainya. Sedangkan menurut ilmu psikologi, dewasa adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada usia tugapuluhan tahun. 

Untuk menjadi pribadi yang dewasa dan meninggalkan sifat kekanak - kanakan bukanlah perkara mudah. Sekuat apapun kita berusaha untuk menjadi dewasa belum tentu kita bisa membentuk pribadi dewasa sebenarnya. Pengalaman hidup yang pahit dan manis biasanya lebih besar perannya dalam pembentukan karakter dewasa. Karena dewasa bukan tentang umur yang tua tapi bagaimana kita memahami dan mengendalikan diri.

Beranjak menjadi pribadi yang lebih dewasa itu mengajak kita untuk lebih menghargai dan memahami bagaimana diri kita sebenarnya. Bukan masanya lagi kita berada dalam kondisi nyaman dan membuang - buang waktu dengan kegiatan dan kebiasaan yang tidak berart dan banyak merugi.

Kenapa harus dewasa?

Dewasa itu memiliki pikiran dan visi yang sudah jauh kedepan. Mereka sudah memiliki tatanan hidup dan punya jalan cerita dan pilihan hidup yang jelas. Seseorang yang sudah dewasa tidak akan membuang - buang waktunya untuk hanya sekedar bermain dan kegiatan yang tidak berguna. Kerena mereka sadar sesadar - sadarnya bahwa umur yang kian hari semakin berkurang menuntut mereka untuk melengkapi kewajibannya terhadap orang - orang yang ada disekitarnya.

Orang yang dewasa itu tidak egois. Mereka terbuka dan menerima kritikan orang lain terhadp diri merekakarena mereka tahu bahwa hal tersebut berguna untuk kemajuan dirinya.

Dewasa itu bertanggung jawab atas semua perbuatan dan tindakan yang mereka lakukan. Mereka tidak mudah melimpahkan masalah yang mereka buat untuk dibebankan kepada orang lain. Kedewasaan cendrung menuntutnya untuk menyelesaikan masalah problema kehidupannya sendiri. Mereka belajar untuk memahami orang lain dan dirinya sendiri.

Orang dewasa itu mudah untuk memahami dan memposisikan dirinya terhadap orang lain. Mereka selalu berfikir sebelum bertindak dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Mereka tanggap dengan situasi apapun dan selalu sabar menghadapi sesuatu yang menghalanginya.

Orang dewasa cendrung lebih bisa mengatur emosinya dan mengontrol tindak tandung atas tindakan atau hal kecil yang dilakukan orang lain yang mengganggu hidupnya.

Dewasa itu bisa berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas perbuatan yang dialakukan. Bukan lari dari kenyataan yang dihadapinya dan bersembunyi dibalik kepribadian orang lain.

Mereka cendrung lebih sopan dalam berbicara dan bertindak. Mereka paham dengan posisinya ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua, mereka juga mengerti bagaimana seharusnya bersikap kepada mereka yang lebih muda darinya.

Seseorang yang dewasa juga mengerti keadaan dan bisa menempatkan, meposisikan diri mereka. Mengerti saat dimana mereka harus bersikap serius dan saat mereka bisa bermain - main. Sikap ini sangat penting karena masih banyak orang yang saat serius tapi malah bermain - main atau sebaliknya.

Orang dewasa cendrung tidak suka dengan hal yang bertele - tele. Mereka berbicara apa yang menurut mereka penting untuk disampaikan. Mereka cendrung lebih banyak diam dan bicara disaat yang diperlukan saja.

Masih kah kita ragu untuk beranjak menjadi pribadi yang lebih dewasa? 

Lihatlah kondisi lingkungan kita, lihat bangsa ini. Menjadi lebih dewasa adalah PR besar untuk kita semua, berapa banyak dari kita yang mudah terprovokasi, menilai sesuatu secara subyektif, sulit untuk mengikuti aturan, menganggap dirinya paling benar dan berkuasa.

"Kita bertumbuh dewasa bersama waktu, namun waktu tidak dapat mendewasakan kita" - FHZ

Postingan populer dari blog ini

Lokasi, Anggaran, Konsep dan Persiapan Teknis - Membangun Rumah Tanpa Arsitek 001

Membangun rumah Hunian beberapa tahun ini bukan sebuah perkara mudah, selain sulitnya mencari lokasi yang strategis dan cocok, juga dibenturkan oleh biaya bahan baku dan ongkos tukang yang sudah mulai meroket. Semakin lama, tampaknya Hunian vertikal akan semakin diminati oleh kaum Millennial dikarenakan banyaknya biaya yang diperlukan ketika membangun Hunian tapak dibandingkan dengan tinggal di apartemen dan sejenisnya. Lokasi Strategis Pada tahun 2015 orang tuaku membeli tanah yang cukup strategis, Meskipun lokasinya sedikit jauh dibandingkan dengan rumah dinas yang sudah aku tempati bersama keluargaku sejak tahun 2000. Tanah ini memiliki luas kurang lebih 60 m² dengan dua bangunan permanen (rumah tua dan kontrakan 2 pintu) di atasnya dan dijual dengan harga sekitar Rp.120jt, harga ini bisa dibilang jauh dibawa harga pasar karena lokasi tersebut merupakan area dalam kelurahan yang penduduknya sudah cukup banyak dan padat. Hal pertama dan paling penting yang harus dilakukan k...

Mendefinisikan Makna Shabat dan Teman

Photo: www.pexel.com Sudah menjadi kodratnya manusia diciptakan saling membutuhkan satu sama lain. Sebagai makhluk sosial kita memiliki ketergantungan terhadap orang lain. Secara umum teman adalah orang yang tidak terlalu dekat dengan kita, namun pernah kenal satu sama lain. Sedangkan sahabat adalah bentuk tertinggi sebuah hubungan pertemanan.  Sejatinya, mencari teman itu lebih mudah ketimbang mencari sahabat. Teman itu tanpa batas, sedangkan shabat itu sangat terbatas dan susah untuk dicari.   “Permisalan teman yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya, dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu, dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” - H.R. Al-Bukhari dan Muslim Bagaimana seharusnya kita meny...